Saya bingung. Atau, bisa juga saya terlalu naif menyikapi keadaan.
Saya benci Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudera karena mereka mengotaki pembantaian ratusan orang di Bali. Kebanyakan korban pembantaian itu adalah mereka yang sedang berlibur atau mereka yang bekerja untuk menjaga dapurnya tetap ngebul.
Sekarang, mereka sudah dieksekusi mati.
Beberapa waktu yang lalu, saya punya keinginan untuk menuliskan sebuah tulisan ‘kasar’ yang pada intinya mensyukuri kematian mereka. Itu emosi. Belakangan, saya sadar bahwa tindakan itu tidak penting. Jadi, lebih baik menulis sebuah tulisan kenangan yang cukup merepresentasikan perasaan saya akan mereka.
Saya, dan kebanyakan orang di dunia ini, sama sekali tidak bisa berpihak pada keputusan orang-orang ini yang merasa punya hak untuk memerangi Amerika Serikat dan mengambil posisi aktif menyerang mereka. Mereka, para pembom ini, bodoh. Yang mereka serang adalah Bali di mana secara kasat mata pengunjung bulenya didominasi oleh orang Australia.
Lalu Australia disamakan dengan Amerika Serikat, dianggap sekutu. Nah, yang bersekutu kan pemerintahnya. Saya yakin, banyak juga orang Australia yang benci sama pemerintah Amerika Serikat. Ah, tidak penting buat saya urusan benci membenci itu.
Sulit sekali kalau urusan negara dibawa menjadi satu hal yang personal.
Saya juga benci sekali dengan pemerintah Amerika Serikat. Saya benci sekali kenapa mereka harus menerapkan syarat yang ketat secara membabi buta. Saya benci paranoia yang mereka sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Saya benci kenapa mereka begitu dominan dalam perekonomian dunia. Dan saya benci akan jarak mereka yang jauh, membuat ongkos kirim antar negara menjadi sangat mahal.
Kebencian-kebencian itu membuat saya tidak ingin pergi ke Amerika Serikat dengan uang sendiri. Kalaupun saya pada akhirnya mengunjungi Amerika Serikat, itupun harus tidak menggunakan uang saya sendiri. Hehe.
Tapi, kebencian kan tidak bisa begitu saja digelontorkan dengan merasa punya hak untuk mematikan orang lain. Yah, anak SD juga tahu kalau membunuh itu salah besar. Membunuh karena punya persoalan pribadi saja salah. Apalagi membunuh tanpa alasan pribadi.
Ok, pada akhirnya mereka mati di hadapan regu tembak.
Saya tidak bisa membenarkan pula hukuman mati secara pribadi. Tidak berperikemanusiaan sepertinya. Hidup kok jadi ada di tangan manusia ya? Tapi, ada satu yang menjadi payungnya. Saya adalah warga negara Indonesia. Indonesia masih memberlakukan hukuman mati. Selama ia merupakan pilihan penitensi, saya harus tunduk dengan aturan itu. Kalau tidak sepakat, pilihan saya adalah keluar dari Indonesia. Tapi, Indonesia adalah rumah saya. Saya sepakat sepenuhnya ikut dan tunduk pada hukum negara ini.
Saya berharap hukuman mati dihapuskan satu hari nanti.
Yang lucu, ketiga orang ini disambut seperti pahlawan. Kalau sampai di level melayat, itu harus. Tapi menganggap mereka pahlawan? Cmon, pahlawan dari mana? Mereka membunuh ratusan orang yang tidak punya salah, lantas menjadi pahlawan? Tidak masuk akal sama sekali.
Lagi-lagi keadaan aneh mampir ke dalam hidup saya.
Yang serem juga, kematian mereka bisa jadi memupuk sel-sel baru terorisme. Ada orang bodoh lagi yang merasa terprovokasi untuk membalas dendam akan kematian tiga orang ini. Haha.
Aneh sekali keadaan ini. Semoga tidak kejadian deh yang model begini.
Selamat jalan, teroris. Semoga pada detik-detik terakhir sebelum kematian kalian, kalian disadarkan bahwa apa yang kalian lakukan itu salah besar.
Oh ya, saya masih benci sama kalian. (pelukislangit)
Rumah Depok
9 November 2008
10.20