Di awal hari saya di kantor, saya berbicara dengan Yurie, salah satu orang di dalam manajemen Efek Rumah Kaca. Dalam pembicaraan sebelumnya beberapa waktu yang lalu, Yurie berjanji akan memperdengarkan seluruh materi Kamar Gelap, album kedua Efek Rumah Kaca. Pagi ini saya menagihnya, karena teringat. Kami bertemu di Yahoo Messenger. Saya sedang berpikir tentang isi blog Suave berikutnya. Karena bertemu Yurie, langsung saja pikiran saya melayang kepada Efek Rumah Kaca. Tulisan singkat saya bisa dilihat di sini. Mendengarkan lagu Kenakalan Remaja di Era Informatika yang dikirimkan Yurie dalam format mp3, adalah sebuah pengalaman seru yang mampir ke hari saya. Saya tidak menyangka Efek Rumah Kaca akan bermain ke wilayah indierock. Status YM saya lalu berubah menjadi, "Blown away by ERK's new single!" Sampai sekarang, saat tulisan ini ditulis. Saya sangat menantikan Kamar Gelap, judul album kedua mereka, dirilis. Band ini gila! Oh, Kamar Gelap akan dirilis oleh Aksara Records. (pelukislangit)
 | Album keduanya lebih bagus. Sejak dapat dua bulan lalu, sampai sekarang nggak bosen-bosen. |
 | iya lu lix. ketinggalan banget sih. hahahah. :p
"mosi tidak percaya" salah satu yang gua suka, selain "kenakalan remaja di era informatika."
juga lagu "menjadi indonesia." |
 | quasievil wrote on Nov 14, '08, edited on Nov 14, '08 "mosi tidak percaya" salah satu yang gua suka, selain "kenakalan remaja di era informatika."
juga lagu "menjadi indonesia."  "Menjadi Indonesia" tuh lagu favoritnya Arian, katanya mengharukan. Iya juga sih, gue baru bener-bener ngerasain pas dengerin di mobil beberapa hari yang lalu. Entah kenapa mata tiba-tiba sedikit berair. Sialan kau Arian, hahaha. Kayaknya itu lagu nasional modern terbaik sejak "Bendera".
"Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa" juga sangar, lebih ngerock dari biasanya. Calon lagu favorit pas live. "Lagu Kesepian" tuh "Desember" yang baru, bagian instrumentalnya selalu bikin gue merinding. Bagian penutupannya "Hujan Jangan Marah" juga. Ah, pokoknya banyak deh. Gue pasti bakal beli albumnya kalo udah keluar. |
 | hweee serasa bego. belum denger satu pun lagu yang kalian sebutkan =( |
 | mereka mixing di sebelah kamar gue (ruang kerja vanco). tapi gue malah nggak mau dengerin materi mereka. gue percaya di album kedua ini banyak materi bagus dan cukup dinantikan publik. dari awal hingga detik ini gue menolak untuk mendengarkan materi-materinya. karena gue berjanji untuk mendengarkannya ketika mereka telah menyelesaikannya hingga tuntas.
|
 | yang hujan jangan marah udah gue puter di radio semenjak beberapa minggu yang lalu padahal albumnya belum keluar x) |
 | Ah, tapi kalo sang musisi ingin berbagi prosesnya untuk kita yang ada di luar, masa mau nolak? Hehe.
Bin sempat ke kantor ngasih denger beberapa materi yang waktu itu belum kelar digarap, Erick juga hadir dalam rangka tugas kantor dia juga. Dari situ aja udah keliatan kalo album ini nggak akan mengecewakan, dan tebakan gue terbukti bener pas udah denger hasil akhirnya.  Nggak tau kenapa, kok gue merasa perlu punya banyak standar yang bisa diimplementasikan dengan artis-artis tertentu. Gue dulu diperdengarkan Seringai sama Arian waktu masih di kantor Playboy, sudah teracuni oleh nuansa Marijuanaut yang beda sepenuhnya dengan lagu Seringai yang lain. Waktu itu gue milih untuk minta lagu itu distop. Biar kalau mendengarnya nanti dalam bentuk album lebih pol efeknya buat gue. Dan itu terbukti, mendengarkan Serigala Militia secara penuh adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Beberapa band lain malah gue minta untuk ngedengerin duluan. Jadi, standar yang gue buat, tanpa sadar, beda.
Nah, Kamar Gelapnya ERK ini sepertinya bakalan jadi sama kasusnya kayak Serigala Militianya Seringai.
Eh, Erick mana? Erick gitaris gue? Wah, beruntung juga dong dia. Yah, kalian kan wartawan musik, itu privilege bukan? Haha. |
 | makanya, gue nolak. walaupun ditawarin tetep aja. ntar aja... gue juga tidak merasa gue keren kalo udah dengerin duluan. hahahahha |
 | Nggak tau kenapa, kok gue merasa perlu punya banyak standar yang bisa diimplementasikan dengan artis-artis tertentu. Gue dulu diperdengarkan Seringai sama Arian waktu masih di kantor Playboy, sudah teracuni oleh nuansa Marijuanaut yang beda sepenuhnya dengan lagu Seringai yang lain. Waktu itu gue milih untuk minta lagu itu distop. Biar kalau mendengarnya nanti dalam bentuk album lebih pol efeknya buat gue. Dan itu terbukti, mendengarkan Serigala Militia secara penuh adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Beberapa band lain malah gue minta untuk ngedengerin duluan. Jadi, standar yang gue buat, tanpa sadar, beda.
Nah, Kamar Gelapnya ERK ini sepertinya bakalan jadi sama kasusnya kayak Serigala Militianya Seringai.
Eh, Erick mana? Erick gitaris gue? Wah, beruntung juga dong dia. Yah, kalian kan wartawan musik, itu privilege bukan? Haha.  Oo, lo bikin band lagi ama dia? Gue kira Erick gitarisnya Ballads of the Cliche dan The Fake doang...
Iya, Erick itu. Waktu itu dia lagi bikin artikel tentang album-album yang layak dinantikan di tahun 2008. Tapi lo tahu sendirilah, gak harus jadi wartawan musik buat dapatin "bocoran" dari band-band tertentu. Ada banyak jalan menuju Roma kan, Mr. Pop?
Tapi ada benernya sih, mendingan denger sebuah album kalo udah bener-bener jadi, biar kita mendapat karya utuh sebagaimana menjadi niat pembuatnya. Di kantor sempat ada beberapa lagu baru dari Sore jauh sebelum album Ports of Lima keluar. Seperti halnya Kamar Gelap, dari bocoran awal itu udah kelihatan kalo albumnya bakal spesial, tapi gue baru bener-bener merasakan kedahsyatan lagu-lagu itu pas udah jadi. |
 | vanco wrote on Nov 14, '08 lha itu sisi beruntungnya orang2 yang gk ikut proses....kalo saya malah begitu albumnya jadi,malah gk bisa menikmati album2 hebat itu....sialll !!!!!!...padahal waktu awal2 ngerjain sih nikmat2 aja,tapi begitu masuk ke tombol playback yang ke sekian kali nya udah mati rasa jadinya...gk tau enak apa nggak...hahahahahaha... |
 | penasaran jadi pengen denger |
 | Oo, lo bikin band lagi ama dia? Gue kira Erick gitarisnya Ballads of the Cliche dan The Fake doang...  Ballads of the Cliche adalah band gue! Capeeeee deeeeehhhh, isu ini lagi. Di bawah ini penjelasan komprehensif dari Arafino Zaini, salah satu personil Ballads of the Cliche yang paling akhir masuk ke dalam band ini. Begini bunyinya: "Kalo gue sih ngerasa kami sama2 memiliki BotC, baik personil, manager, crew dll. Kita adalah kumpulan orang2 yang memiliki tugas masing2 di atas dan luar panggung, tapi album adalah milik bersama. Itu sih yang gue rasain. Seneng gak seneng ya terserah orang yang mau baca. kan harus beda..." Rentetan kalimat itu ada di entri blog yang ini: http://pelukislangit.multiply.com/journal/item/1041/1041Tulisan Fino itu ditulis dua puluh lima hari yang lalu. Berdasarkan record yang ada di Multiply gue, elo terakhir kali melihat entri itu dua puluh dua hari yang lalu. Jadi, mari asumsikan elo sudah membaca tulisan Fino itu. Cmon dude, haruskah elo kembali ke isu itu? Gue rasa nggak penting deh. Ballads of the Cliche adalah band gue. Posisi gue adalah manajer di band itu. Kalau menurut lo dalam kamus sebuah band nggak ada posisi personil yang punya peran sebagai manajer, berarti kamus lo nggak bisa dipakai untuk menilai hubungan gue dengan Ballads of the Cliche. |
 | Ada isunya ya? Gue gak sempat baca tulisan Fino itu; walau gue buka halaman itu, bukan berarti gue baca semuanya, kan? Tapi makasih ya atas perhatiannya... |
 | Aku suka "Jangan Bakar Buku" sama "Hujan Jangan Marah". Tapi lupa pernah dengernya pas kapan. Mereka mah kayak Sore aja, pasti bagus da... Emang ada isu apa sih, Lix? *gosip mode on : p |
 | kalo gue baru denger "hujan jangan marah" pertama kali pas mereka tampil di common room februari silam. jadi banyak materi yang kayaknya emang lama yah... tapi penasaran ama lagu2nya yg lain yah. gue baru denger sebatas "hujan jangan marah" dan "jangan bakar buku" pas mereka main di bandung beberapa waktu lalu... |
 | menkovolkam wrote on Nov 14, '08, edited on Nov 14, '08 Jah, Meng, bisa lari klien lo ngomong gini. Hahaha.. Eh, pernah dapet band yang aliran musiknya sama sekali nggak elo suka nggak?  maksud gw lix, begitu albumnya kluar gw blm bosen denger nya krn emang lagunya bagus2.. trus menanggapi pertanyaan lo, gw sangat menghargai karya2 orang lain meskipun mungkin tidak segitu masuknya dg selera gw tp gw memang mencintai musik kok hehehe.. dan gw lebih suka lagi akan prosesnya, bagaimana buah pikiran sang musisi bs tertuang menjadi karya yg konkret.. |
 | kalau gua ada pilihan misalnya untuk mendengarkan materi yang belum jadi 100% atau menunggunya, gua akan memilih menunggunya selesai 100% dan jadi satu packaging lengkap...kalaupun mendengarkanpun mungkin akan sekilas... unsur kepuasan dan surprisenya akan berbeda, apalagi kalau belum dimixing atau dimastering... kemaren gua dapet bocoran salah satu band fav gua..secret machines.. tapi belom dimixing..anjis nyesel gua dengernya...jadinya langsung tidak tertarik... |
 | Jangan bakar buku, bakar ayam aja.. :) |
 | Masalah materi lama, sepertinya satu band selalu punya stok lama yang istilahnya dibuang sayang. Nggak cuma ERK deh. Lagu All the Timenya The SIGIT --yang menurut gue adalah lagu balada yang nendang banget liriknya-- aslinya adalah lagu terpinggirkan yang sempat tertahan lama untuk menemukan aransemen yang sekarang sudah dirilis itu. The Party yang jadi single gratisan mereka juga lagu lama yang dipendam dan nggak masuk ke album Visible.
Si ERK (dan siapapun) sepertinya juga punya kecenderungan gitu. Lazim sih kayak gini. Tapi, kalau dipikir-pikir lucu juga ya. It happens to everyone. Dimas Ario, pemain bas BOTC juga punya lagu judulnya Evergreen, tapi dia nggak setor ke bandnya. Padahal judul debut album bandnya Evergeen.
Kalau si ERK, secara mereka juga sebenarnya bukan orang-orang yang baru terjun ke band-bandan, wajar deh kalau stok lagu mereka segudang. Stok lagu segudang, berarti banyak lagu dibuang sayangnya. |
 | kalau udah diperdebatkan begini pasti lezat tuh album kedua ERK! pasti beli! |
 | Masalah materi lama, sepertinya satu band selalu punya stok lama yang istilahnya dibuang sayang. Nggak cuma ERK deh. Lagu All the Timenya The SIGIT --yang menurut gue adalah lagu balada yang nendang banget liriknya-- aslinya adalah lagu terpinggirkan yang sempat tertahan lama untuk menemukan aransemen yang sekarang sudah dirilis itu. The Party yang jadi single gratisan mereka juga lagu lama yang dipendam dan nggak masuk ke album Visible.
Si ERK (dan siapapun) sepertinya juga punya kecenderungan gitu. Lazim sih kayak gini. Tapi, kalau dipikir-pikir lucu juga ya. It happens to everyone. Dimas Ario, pemain bas BOTC juga punya lagu judulnya Evergreen, tapi dia nggak setor ke bandnya. Padahal judul debut album bandnya Evergeen.
Kalau si ERK, secara mereka juga sebenarnya bukan orang-orang yang baru terjun ke band-bandan, wajar deh kalau stok lagu mereka segudang. Stok lagu segudang, berarti banyak lagu dibuang sayangnya.  Gue tadi lebih ngelihat dari sisi materi lama yang ternyata lebih keren dibanding materi yang dibikin belakangan tapi kebetulan keluar duluan. Misalnya, kalo kita dengar Centralismo dulu baru Ports of Lima dan merasa bahwa album yang baru itu lebih keren tanpa tahu bahwa sebagian lagu-lagunya justru lebih tua dibanding album pertama. Kemungkinan besar kita akan berasumsi bahwa peningkatan kualitas di album kedua itu disebabkan karena lagu-lagu di album itu adalah hasil dari semakin matangnya musikalitas band tersebut. Kayak "Vrijeman"-nya Sore, misalnya, yang merupakan lagu pertama yang pernah mereka bikin tapi baru muncul di Ports of Lima. Gue kalo bisa bikin lagu sebagus itu, gue bakal ngeluarin secepat mungkin.
Tapi yah tampaknya ada banyak alasan sih, kenapa dirilisnya sebuah lagu menjadi tertunda. Bisa karena belum nemu aransemen yang pas - bisa jadi "Vrijeman" gak bakal sekeren yang kita tahu sekarang andaikata dirilis sejak dulu. Bisa jadi karena lagu-lagu itu terlalu lama dan kurang mewakili musikalitas yang ingin diperlihatkan atau kebetulan lagu itu nggak cocok dengan visi yang hendak disampaikan pada saat itu. Dan sebagainya...
Dalam kasus ERK, jadi penasaran mengenai pertimbangan apa yang digunakan untuk memilih apa yang masuk ke kedua album mereka, dari stok sekian banyak lagu yang mereka punya. Soalnya kalo menurut gue, baik album pertama maupun kedua nggak punya tema umum yang eksplisit - keduanya hanyalah koleksi lagu. Lagu-lagu yang sangat bagus, tentunya, tapi nggak lebih dari itu. Dari segi lirik pun nggak terasa janggal kalo lagu-lagu Kamar Gelap masuk ke album pertama, dan sebaliknya. Jadi adakah pertimbangan lebih dalam? Atau apakah lebih pakai feeling aja?
Gimana kalo orang-orang di sini yang udah bikin album? Kayaknya semua cerita uniknya masing-masing... |
 | ngemeng2 kapan releasenya yak? |
 | mungkin ini hal yang baru untuk band yang kita kenal dengan pop minimalis/shoegaze, akan mengerinyit di telngan dengan indierock...
bisakah aksara mempercepet proses, kamar gelap ?
ini benar-benar gila... |
 | Eh, tapi gue inget deh, Pir. Si David pernah cerita, dari album pertama aja si Sore udah banyak eksperimen. Mungkin emang mereka belum cocok aja kali ya dengan aransemen lagunya.
Pernah juga denger dari Riko, gitarisnya Mocca, salah satu personil Sore (waktu masih rekaman Ports of Lima) bilang kalau mereka masih bingung mainin lagu-lagu Ports of Lima di panggung.
Jadi bisa jadi emang nggak semudah yang disangka kali ya untuk memindahkan hasil rekaman yang sistemnya memang tidak live ke sebuah pertunjukan band yang live.  Seinget gue salah satu alasan Sore mengisi Centralismo dengan lagu-lagu yang relatif baru ketimbang materi-materi lama yang sudah ada sebelumnya adalah karena terbawa semangat mendapat kesempatan rekaman album pertama. Lalu pas mau bikin Ports of Lima, baru deh mereka coba kembangin lagi materi-materi yang tertinggal.
Terus mungkin juga materi-materi yang lama itu baru direalisasikan sekarang karena pada saat itu kemampuan belum sanggup untuk mewujudkan apa yang ada di dalam kepala. Jadi setelah musikalitas semakin terasah dan kepercayaan diri semakin tinggi, baru deh mereka keluarkan yang lama-lama sesuai dengan bayangannya.
Gue juga sempat nanya Bemby pas gue baru denger Ports of Lima, "Entar live-nya gimana?" Dia jawab, kurang lebih, "Wah, kita nggak mikirin kalo live-nya gimana. Yang penting bikin aja dulu." Kayaknya itu terbukti sekarang sih: gue udah beberapa kali nonton Sore sejak album itu keluar, dan lagu-lagu Ports of Lima yang dibawain biasanya seputar "Bogor Biru", "Merintih Perih", "Essensimo", "Setengah Lima", "Ernestito" dan "Vrijeman".
Lagu-lagu lainnya belum pernah gue dengar lagi secara live sejak launching di PPHUI dulu. Walau mereka sekarang selalu memakai Dono sebagai "anggota keenam" Sore, mungkin mereka sendiri kurang puas kalo bawain lagu-lagu lainnya itu tanpa embel-embel string section dan horn section seperti yang ada di album, padahal gue pengen banget denger "Senyum Dari Selatan" dan "Karolina" pas live lagi. Semoga dalam waktu dekat mereka bisa bikin konser tunggal semacam waktu launching, soalnya menurut gue itu bisa lebih keren karena penonton udah lebih familer ama lagu-lagu Ports of Lima. |
 | ditanandita wrote on Nov 16, '08, edited on Nov 16, '08 jadi yang sabar aja deh nunggu albumnya keluar. daripada tahu duluan melulu. |
 | sudah mendengarkan sekilas ditempat arian kemarin.. kalau gua untuk kesan pertama megang yang album pertama..album pertama tuh begitu denger langsung terkesan, tapi mungkin karena dulu bener2 baru yak.. kalau sekarang sudah mendengar dan melihat mereka berkali2... Untuk lagu2nya..anjis ini bagus2 banget...mosi tidak percaya dan menjadi indonesia adalah lagu yang sangat kuat!! |
 | jangan lupa untuk mereview ya, lix, setelah albumnya keluar nanti. |
 | hehe makasih ya lix. iya ni emosi tidak baik sekali dalam kondisi ini. cuman bikin tambah capek aja. hehe.
doain ya lix, mogamoga keadaan akan menjd lebih baik buat gue, amin. :) |
 | suaranya cholil emang yahud, coba tutup mata deh kalo ERK lagi pentas..itu dah kaya dengerin CDnya langsung gw baru denger dua orang kaya gitu, cholil dan Tika..kira kira siapa lagi ya kaya gitu? |
 | setuju !
CD dan live tidak ada bedanya :D |
 | gelow euy...semua orang ngomongin ERK, saya belum punya sidinyah satu pun...
(hidup di kota kecil kadang bikin murka: gak ada yang jual ERK !) |
 | aku jg blm punya ni yg baru, kapan si bung fel? |
 | Katanya 19 Desember. Baca dong di bawah. |
 | kan gue edisi kaya fino. baca belakangan :D :D
galak amat ! |
 | Liat aja myspace ERK.. www.myspace.com/efekrumahkaca udah ada lagu kenakalan remaja di era informatika ko.. salam kenal.. |
 | anjirrr...kok udh ada yang dpt albumnya?? mau donk.. plisss |
 | Orang sabar disayang Tuhan, bos. |
 | ekohm wrote on Dec 15, '08 |
| |