Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
ReviewReviewReviewReviewJun 5, '09 9:11 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Monkey to Millionaire
Lantai Merah adalah penantian yang begitu layak untuk ditunggu.

Saya senang mendapati sebuah fakta bahwa kata hati saya benar tentang band ini. Semenjak mendengarkan EP mereka beberapa tahun yang lalu, saya percaya sepenuhnya bahwa band ini akan jadi sesuatu.

Tapi, sejujurnya, saya tidak menyangka bahwa mereka akan jadi Monkey to Millionaire yang sekarang ini.

Dulu, saya begitu terpesona dengan cara penulisan lagu berbahasa asing mereka. Cara bernyanyi Wisnu, sang vokalis terdengar begitu bule. Dan liriknya memang tidak kacangan. Kendati saya bukan penggemar Weezer, bolehlah saya cukup bangga mendapati prototipe Weezer asli Jakarta yang ciamik dalam diri band ini.

Lagu-lagu di album itu, terutama Independent Song dan Radio, sempat bertengger lama di dalam hidup saya ketika itu. Saya malah kurang punya impresi dengan Rules and Policy, lagu yang membawa mereka berkeliling ke banyak kota karena menjadi single pertama La Lights Indiefest Vol. 2.

Oh ya, sedikit melantur, saya merasa perlu untuk memberikan kredit penuh kepada band ini untuk usaha keras mereka merilis album penuh. Mereka sepertinya paham sepaham-pahamnya bahwa La Lights Indiefest hanya sebuah cara mencari uang –tidak lebih dari itu— dan karir sebuah band tetap harus berlanjut setelah kontes itu selesai dan memalingkan muka ke talenta-talenta baru yang lainnya. Monkey to Millionaire adalah band keempat setelah Vox, Vincent Vega dan Cascade, yang berhasil menelurkan rilisan penuh sendiri. Yang lain? Entah kemana. Hanya sedikit yang sekarang masih punya suara.

Ok, kembali ke album ini. Perlu kesabaran ekstra untuk menanti Lantai Merah. Beberapa bulan terakhir malah saya memutuskan untuk tidak sering-sering memutar Merah, single gratisan yang mereka bagikan akhir 2008 kemarin. Bukan apa, saya merasa takut jika ekspektasi saya dengan liarnya berlari terlalu jauh. Saya takutnya saya menjadi begitu penasaran dan ternyata begitu keluar albumnya malah jelek.

Dalam sebuah perbincangan dunia maya beberapa bulan yang lalu, Agan –pemain bas— bilang bahwa masih ada satu lagu lagi yang harus dibereskan untuk menjadikan album ini siap dirilis. Ah, saya sudah percaya bahwa masih perlu waktu lama untuk benar-benar menyaksikan album ini terpasang di toko-toko rekaman di kota saya.

Jadi, rumusnya, saya harus sabar.

Tapi, si Penguasa di atas sana, ternyata benar-benar menjawab rasa penasaran saya. Band ini keluar dengan sebuah debut album penuh yang benar-benar mantap!

Saya merasa perlu untuk memutar berulang video Replika di Youtube untuk memenuhi kebutuhan akan musik band ini. Haha. Waktu itu cdnya belum beredar, tapi single ini sudah tersedia di Youtube. Sulit untuk membantah bahwa lagu itu adalah lagu paling catchy di album ini. Videonya mengingatkan sekelebat pada video 1979nya The Smashing Pumpkins yang jadi salah satu anthem paling penting dalam dekade 90-an saya.

Lagu pembuka Fakta dan Citra juga merupakan ucapan selamat datang yang hangat untuk saya. Gaya santai yang digunakan Wisnu untuk bernyanyi tampaknya begitu cocok untuk band ini. Fakta dan Citra juga menjadi penguat untuk saya suka dengan lirik-lirik mereka.

Lalu yang benar-benar mencuri adalah lagu gratisan yang tadi saya sudah sebut di atas, Merah. Ah, baris “Mereka yang kita sayangi, yang paling mampu melukai...” sudah ditahbiskan menjadi salah satu line favorit saya sepanjang masa. Simak liriknya baik-baik dan bisa jadi akan banyak orang sepakat bahwa lirik itu efeknya benar-benar besar untuk orang lain.

Satu Nama juga berkontribusi besar untuk membuat Lantai Merah punya impresi kuat di dalam diri saya. Semua lagu berbahasa ibu di album ini sepertinya kuat karakternya.

Itu juga yang membuat musik Monkey to Millionaire yang sekarang berbeda dengan apa yang pernah saya dengar di EP mereka dulu. Dan perubahan itu sangat menarik untuk diikuti.

The Vow adalah sebuah balada yang bagus juga. Begitu juga dengan 30 Nanti, kendati saya tidak suka dengan tema liriknya. Tapi, dua lagu ini, lagi-lagi menambah amunisi album Lantai Merah.

Oh, jangan lupakan track penutupnya yang menampilkan Marsha Suryawinata yang melakukan debut menyanyinya dalam sebuah rekaman. Tema lagu ini lucu dan cenderung beda dengan lirik-lirik lain lagu di album ini. Dan, catchy!

Overall, Lantai Merah adalah album yang sangat bagus!

Kredit positif juga perlu diarahkan kepada Joseph Saryuf, produser album ini dan Sinjitos Records, label rekaman mereka.

It’s all worth the wait! (pelukislangit)

*) Gambar diambil dari review Arian 13. Makasih ya, Yan! Hehehe.


pelacurkorporat wrote on Jun 5, '09
terima kasih buat reviewnya, Felix. Seperti terbayar capek satu tahun menyiapkan album ini dengan feedback-feedback yang sudah masuk. :)
pelukislangit wrote on Jun 5, '09
ReviewReviewReviewReviewReview
terima kasih buat reviewnya, Felix. Seperti terbayar capek satu tahun menyiapkan album ini dengan feedback-feedback yang sudah masuk. :)
Keep up the good work juga!
omuniuum wrote on Jun 5, '09
hmmmmm.....
ripb wrote on Jul 22, '09, edited on Jul 22, '09
"Monkey to Millionaire adalah band keempat setelah Vox, Vincent Vega dan Cascade, yang berhasil menelurkan rilisan penuh sendiri. Yang lain?"

Jangan lupakan The Morning After dari Malang mas felix. ^,^
pelukislangit wrote on Jul 22, '09
ripb said
Jangan lupakan The Morning After dari Malang mas felix. ^,^
Oh iya! Gue salah. Harusnya lima. The Morning After padahal sudah pernah gue review juga. Haha. Maklum ya, lupa adalah penyakit gue. Ketularan dari bos-bos FFWD Records dulu sih.
britinvasion wrote on Jul 24, '09
Kl menurut sy lbh mirip the strokes ketimbang weezer. Rilisan yg ckp fun. Memang kekuatannya ada di vokal wisnu yg terasa jantan (halah), terutama dlm lagu2 brbahasa inggris.
Add a Comment
How would you rate this title? (optional)
0 out of 5 stars