 | Category: | Music | | Genre: | Rock | | Artist: | Noel Gallagher |
Seorang raja boleh kehilangan tahtanya. Tapi, kualitas pemimpin karismatik yang melekat pada dirinya, sesungguhnya tidaklah mudah untuk dihilangkan. Noel Gallagher, suatu kali pernah memimpin band rock paling berbahaya di alam raya bernama Oasis, kembali ke gelanggang dengan sebuah album baru selepas band itu bubar jalan.
Ia membawa sebuah nama baru, Noel Gallagher’s High Flying Birds. Tidak penting siapa yang ada di dalam band itu, karena Noel Gallagher sesungguhnya adalah garansi.
Tanpa bermaksud membandingkan, Beady Eye yang diisi oleh empat orang personil terakhir Oasis –Liam Gallagher, Gem Archer, Andy Bell dan penabuh drum Chris Sharrock— duluan merilis album paska hidup bersama Oasis dikebumikan. Yang terdengar adalah sebuah komposisi suara yang baru, napasnya agak beda dengan Oasis.
Banyak fans lama kecewa, walaupun tidak sedikit juga yang lantas menjadi pengikut setia mereka. Tapi, sulit untuk mengatakan bahwa debut album Beady Eye masuk kategori bagus. Menurut saya, tidak sehebat album-album Oasis tapi tidak jelek juga. Maklum, saya penggemar berat.
Akan tetapi, beberapa hari yang lalu ketika mendapati versi bocoran internet debut album Noel Gallagher’s High Flying Birds –kita harus membiasakan diri dengan nama ini—saya seperti dipertemukan dengan seorang sahabat lama. Seorang yang rasanya sudah dikenal luar dalam dan punya kapasitas untuk dipercaya.
Jangan pernah dilupakan bahwa Noel Gallagher adalah nyawa Oasis. Ia menulis lebih dari 90% lagu band itu dan bertanggung jawab atas sederetan lagu hits yang membawanya ke tampuk kerajaan rock. Jadi, di dalam DNAnya, memang sudah punya turunan mumpuni untuk urusan cipta-mencipta lagu.
Debut self titled Noel Gallagher’s High Flying Birds adalah penegasan bahwa, mungkin ia kehilangan Oasis, tapi ia tidak pernah kehilangan sentuhan midasnya.
Sejak mendengar single pendahuluan The Death of You and Me yang masih kental aura Oasis di album The Shock of the Lightning, saya percaya bahwa sesungguhnya, Noel Gallagher lah yang akan tetap bisa mempertahankan kejayaan.
Lupakan suara khas Liam Gallagher yang membuat semua penyanyi rock terlihat sebagai seorang kurir perang semenjana, karena Noel Gallagher punya senjata yang lebih dari sekedar suara vokal yang luar biasa hebat.
Debut ini berisi sejuta balada yang luar biasa lebih dari cukup untuk sebuah album comeback ke gelanggang musik. Saya pribadi menyukai sekali single kedua versi Eropa yang berjudul If I Had a Gun yang mungkin ada di liga yang sama dengan Don’t Look Back in Anger. Lirik-lirik murahan yang berisi ratapan hubungan laki-laki dan perempuan berpadupadan dengan vokali lirik Noel Gallagher, rasanya berhasil menarik perhatian saya.
Begitu juga dengan single kedua versi Inggris Raya AKA What a Life yang menyajikan riff-riff rock psikedelik yang beberapa tahun belakangan digeluti Noel Gallagher di Oasis. Masih banyak sederet lagu yang mungkin bisa disandingkan dengan lagu ini. Sebut saja (I Wanna Live in a Dream in My) Record Machine yang rasanya seperti materi terbuang dari era Standing on the Shoulders of a Giant dan Don’t Believe the Truth.
Untuk mendapatkan rasanya, memang harus mendengarkan album ini. Tidak cukup rasanya rangkaian kata-kata saya ini untuk mewakili deskripsi perasaan yang saya miliki sekarang ini.
Noel Gallagher sudah kembali. Tidak penting bendera apa yang ia pakai. Sebuah fakta yang harus dihormati bersama adalah kenyataan bahwa ia kini bukanlah mesin sebuah band rock paling penting untuk hidup saya. Tapi ia tetaplah seorang pahlawan musik untuk saya.
Di beberapa bagian album ini, saya membayangkan bahwa Liam Gallagher mengambil alih mikrofon dan mengawal lagu-lagu cantik di sini untuk punya kapasitas imortalitas. Tapi, mungkin saya tetap seperti satu dan sekian juta penggemar lama mereka berdua yang masih suka mimpi di siang bolong.
Album ini bagus. Noel Gallagher membuktikan kalau ia adalah penyanyi sekaligus penulis lagu yang hebat. Tapi, rasanya masih akan jauh lebih hebat jika isi band pengiringnya adalah empat orang kawan lamanya. Satu di antaranya si saudara kandung yang (mungkin) selalu ia benci.
Felix Dass Cipete, 17 Oktober 2011 Ketika jatuh cinta setengah mati sama Noel Gallagher’s High Flying Birds

 | djant wrote on Oct 20, '11 penasaran setengah mati gue. gue sih pro Noel Lix. hehe. menurut gue Noel itu singer/songwritter yang guaawatt. suaranya juga mellow galau tapi bisa lantang juga. gue ga terlalu ngikutin Oasis yang baru-baru sih. tapi sama yang ini gue penasaran.
Pro Noel! hehe |
| |
|